Janji (benar2) adalah Hutang

Bila Allah selalu menepati janji, manusia sebaliknya seringkali mungkir dengan janjinya.  Baik sadar maupun tidak, baik janji kepada Allah, orang lain, maupun diri sendiri. Yuk kita tengok lagi diri kita. Kita congkel-congkel, kita ulik-ulik, mana-mana janji yang kita ucap namun tak kita laksanakan.

Ingat-ingatlah ketika berjanji. Sekali berjanji tetaplah janji, sampai janji itu tertunaikan. Ia akan menjadi hutang kecuali bila orang yang kita janjikan telah memaafkan atau merelakan janji tersebut tidak kita tunaikan. Maka bila itu terjadi, berterimakasihlah pada mereka :).

Kadang kita lebih mudah menepati janji kepada orang lain seperti teman, tetangga, atau kolega karena berkaitan dengan nama baik, pertetanggaan, dan pekerjaan. Namun kita sering lupa akan janji yang kita ucapkan untuk orang-orang terdekat kita.

Kadang dengan niat untuk menyenangkan hati mereka dengan spontan kita berujar, “Besok abi belikan permen itu 5 buah ya”, atau “Nanti pulang kerja umi belikan martabak kesukaanmu ya, sekarang makan dulu”. Ternyata kita baru teringat janji membelikan anak permen/martabak ketika di tengah jalan yang sedang macet sedangkan hari telah malam. Apakah yang akan kita lakukan? Berusaha menunaikan janji dengan konsekuensi pulang lebih telat atau meminta maaf kepada anak?

Sekali atau dua kali anak mungkin memaafkan, tetapi bila keseringan maka anak akan mempertanyakan kejujuran kita. Mungkin mereka tidak mempertanyakannya secara langsung, namun sesuatu akan mengganjal di hati mereka tentang kejujuran orang tuanya. Artinya, dengan tidak menepati janji kita mempertaruhkan kepercayaan anak kepada kita. Lihatlah, ketika anak beranjak dewasa, ia tak lagi 100% percaya kepada orang tuanya. Pada kondisi demikian, nama baik kita di mata anak telah luntur. Na’udzubillahimindzalik.

Seperti rantai setan, anak mempelajari dan meniru perilaku orang tua. Ia tumbuh menjadi anak yang mudah ingkar janji kepada teman, guru, atau orang tua. Ketika ia besar dan berumah tangga, ternyata pola tersebut masih ia lakukan dan anaknya meniru. Maka kesalahan demi kesalahan tersebut berawal dari kesalahan kita, baik sengaja maupun tidak. Oleh karena itu saya lebih sependapat bahwa orang tua seharusnya juga meminta maaf kepada anak (tidak hanya ketika memasuki ramadhan atau lebaran) karena orang tua juga manusia yang tak pernah luput dari kesalahan.

Saya teringat dengan sebuah kisah di sebuah pelatihan parenting, tentang seorang ibu yang berjanji pada anaknya untuk membawakan makanan kesukaan si anak ketika pulang nanti. Ternyata hari hujan dan si ibu lupa hingga di angkot sudah lebih separuh jalan menuju rumah. Walaupun sudah malam dan hujan, si ibu turun dari angkot dan berbalik arah yang cukup jauh untuk membeli makanan kesukaan anaknya yang telah ia janjikan.

Saya tertegun mendengar cerita tersebut. Mungkin pada kondisi seperti itu saya lebih memilih mengatakan kepada anak kondisi sejujurnya dan meminta maaf, namun ternyata ibu itu lebih bijak dan konsisten dengan janjinya. Anaknya mungkin saat itu belum berusia 5 tahun, dan ia memilih memberikan teladan pada anak untuk bersungguh-sungguh menepati janji sekecil apapun dan sesulit apapun keadaan. Two thumbs up untuk mu wahai ibu yang saya tak tahu ia siapa. Semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan kepadamu dan kepada keluargamu. Berkatmu lah saya belajar betapa pentingnya memenuhi janji kepada anak.

Kontras dengan si ibu yang konsisten menunaikan janji pada anak, saya sering menjumpai seorang ayah/ibu yang sering mungkir dengan janjinya kepada anak. Bahkan sampai sengaja berjanji namun sebenarnya janji kosong hanya agar anaknya diam dan tidak menangis/rewel lagi.

Semakin anak tersebut beranjak besar, si anak ternyata tidak percaya lagi dengan orang tuanya walau masih sering kena tipu dan percaya akan janji orang tuanya. Si anak sering berkata, “Nanti mama bohong lagi…” atau “Nanti mama pergi diam-diam…” Kondisi ke depannya ternyata jauh lebih sulit ditangani bila sering membohongi anak. Bayangkan saja kalau kita tidak mendapat kepercayaan anak. Saya ngeri membayangkannya karena semakin ia beranjak dewasa kita akan semakin merasa kesepian. Anak akan lebih memilih mempercayai segala sesuatu kepada orang lain. Ketika ada masalah ia pergi ke orang lain. Ketika ia bahagia ia pun lebih memilih orang lain untuk ia bagi kebahagiaan. Alangkah sepinya dunia bila itu terjadi…

Memang sulit mengubah kebiasaan bila kita ternyata dididik dengan cara yang sama oleh orang tua kita. Itu dinamakan pola asuh. Namun, bila kita tidak berubah maka akan menjadi rantai setan yang sulit untuk diputus. Kita, anak-anak kita, cucu cicit kita dan seterusnya akan memainkan pola yang sama. Namun bila kita memutus rantai tersebut dan perlahan-lahan mengubah kebiasaan dan perilaku kita  insyaallah kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik di segala bidang: sebagai anak, orang tua, teman, atau hamba Allah. Insyaallah.

wallahua’lam bisshowab :).

About these ads

2 responses to “Janji (benar2) adalah Hutang

  1. Semoga kita nanti bisa menjadi orang tua yang selalu menepati janji kepada anak ya Ani :-) semoga kita selalu belajar untuk menjadi orang tua yang baik disetiap detik hidup kita :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s