tak mau jadi anak baik lagi..

Seorang anak kecil berlari mengejar ibunya. Sang anak memanggil, “ Ibu.. Ibu.. Kemarilah. Lihatlah aku, Ibu. Bajuku baru. Aku baru mendapatkannya dari seorang kakek di sana. Dia sangat baik padaku. Ia mengatakan kalau aku anak baik, lalu ia memberikan baju ini padaku. Katanya sebagai hadiah karena aku telah menjadi anak baik. Ibu, tengoklah sebentar. Baju ini indah bukan? Ibu..”

Sang ibu tak sedikit pun berpaling pada sang anak.

“Ibu, lihatlah baju ini. Baju ini baju sutra. Bersulam benang emas. Tahukah Ibu, katanya harga baju ini sangat mahal. Ibu, sentuhlah bajuku ini, sangat lembut.”

Ibu sang anak masih tetap diam.

“Ibu, kata kakek tadi, baju ini hanya untukku. Tak ada anak lain yang memilikinya. Ibu, lihatlah manik-manik ini. Berwarna-warni, berkilau bila diterpa cahaya. Aku tampak seperti seorang putri, iya kan ibu?”

Sang ibu menoleh ke arah lain.

“Terus, kata kakek, kalau aku tetap menjadi anak baik, aku akan diberi hadiah lagi. Ibu, aku akan terus menjadi anak baik. O iya, apakah Ibu tahu kalau teman-temanku mengatakan kalau mereka senang bermain denganku? Mereka juga mengatakan aku teman yang baik. Tadi aku bertemu salah satu dari mereka, dan dia mengatakan kalau aku pantas mendapatkan baju ini. Benarkah itu Ibu?

Sang ibu berjalan ke arah kebun.

Aku senang telah menjadi anak baik”, kata sang anak sembari mengikuti ibunya. “Ibu, aku akan merawat baju ini sepenuh hatiku. Ibu, ajarkan aku cara merawat baju ini. Aku tidak tahu bagaimana cara mencucinya. Ibu..”

Sang ibu beranjak ke dalam rumah.

Sang anak terdiam. Tak tahu lagi apa yang akan ia ceritakan. Ia kemudian menangis. Tanpa ia sadari ia terduduk di kebun. Tak ia sadari bajunya kotor terkena tanah. Ia menangis dan menangis. Ia tak pedulikan duri-duri tanaman merusak baju indahnya. Ia hanya menangis. Semakin lam semakin keras. Ia meremas-remas bajunya, tak tahu harus melakukan apa. Tanpa ia sadari, bajunya menjadi kusut, dan sedikit terkoyak. Ia tak peduli

Ibunya keluar dari rumah, kaget melihat anaknya tampak lusuh. “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau menangis? Lihat bajumu rusak. Harusnya kau menjaga baju itu. Kalau kau tidak menjadi anak baik lagi, kakek tadi tidak akan memberimu hadiah lagi.”

“Aku tidak peduli dengan baju ini lagi. Aku tidak mau menjadi anak baik lagi”, jawab sang anak.

“Apa yang kau katakan?”, tanya sang ibu.

“Tadinya aku ingin Ibu melihat bajuku dan menyentuhnya. Namun sebenarnya, aku ingin Ibu melihatku dan menyentuhku. Aku telah berusaha menjadi anak baik selama ini. Tetapi itu tidak ada gunanya karena itu tidak membuat Ibu melihat dan menyentuhku. Aku tidak peduli apakah bajuku indah atau tidak, asalkan Ibu mau melihatku dan menyentuhku. Ternyata, Ibu mau melihat kepadaku ketika bajuku robek dan aku tidak menjadi anak baik lagi”

Sang ibu tersentak dan terdiam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s