Belajar karena SUKA dan TIDAK SUKA

BELAJAR KARENA SUKA DAN TIDAK SUKA

Bila Anda saya minta untuk mengingat kembali kenangan ketika sekolah –baik SD, SMP, atau SMA-, ingatkah Anda pelajaran apa yang Anda suka dan mengapa Anda menyukainya? Kebanyakan orang akan menjawab karena ia suka dengan gurunya.

Fenomena seperti ini pun saya temui ketika dua tahun menjadi guru. Bila mereka menyukai guru yang mengajar, maka umumnya mereka menyukai pelajaran yang diajar guru tersebut dan umumnya mereka juga dapat menguasai pelajaran tersebut. Sebaliknya, bila mereka tidak menyukai guru yang mengajar, mereka juga tidak menyukai pelajarannya dan umumnya mereka kurang atau tidak menguasai pelajaran.

Sebenarnya ini fenomena klasik sejak dahulu kala. Namun, sedikit para guru atau pengajar yang benar-benar memahaminya. Alhasil, tak banyak yang dapat mereka lakukan untuk membuat anak didiknya menyukai pelajaran yang diampu apalagi pelajaran-pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika dan sains. Lebih parah lagi ketika guru serta-merta menyalahkan anak didik yang malas atau lemah daya tangkapnya. Padahal, seperti sebuah pelajaran bijak dalam Film The Karate Kid, bahwa tidak ada murid yang buruk. Yang ada adalah guru yang buruk.

Guru juga manusia. Saya tahu dan saya memahaminya. Namun, guru terbaik adalah guru yang dengan segala kekurangannya terus belajar meningkatkan pengetahuan dan kapasitas diri. Guru seperti ini akan belajar bagaimana ia dapat diterima oleh anak didiknya. Karena menurut saya guru yang malang adalah guru yang tidak disukai oleh anak didiknya.

Masalah suka-tidak suka disini tentunya harus kita kaitkan dengan hal-hal syar’i atau prinsipil dalam agama. Bila si guru tidak disukai karena guru tersebut melarang mencontek maka penilaian ini salah. Dan sebaliknya bila guru disukai karena guru ini membolehkan anak-anak mencontek ketika ujian maka penilaian ini juga salah.

Hal yang ingin saya tekankan disini adalah  bagaimana menjadi seorang guru yang tetap menjalankan nilai-nilai syar’i dan sekaligus menyenangkan di mata anak didik. Karena bila Anda disukai maka peluang pelajaran yang Anda ajar dan untuk dikuasai anak didik menjadi besar. Bila Anda mampu menjadi guru seperti ini, maka saya yakin Anda akan menjadi guru yang bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s