Memasak itu….. CINTA

Saya dan suami senang melihat program masterchef di televisi (masterchef amerika, masterchef australia, dan junior masterchef australia). Bukan sekedar karena kemampuan memasak saya masih harus terus diasah, mempelajari teknik memasak atau mendapat resep baru, tetapi ada pelajaran penting yang saya dapatkan disana.

Sering peserta masterchef mendapat amarah atau kritikan pedas dari para juri ketika masakan mereka dianggap tidak sesuai harapan. Tetapi, yang sangat membuat para juri kecewa adalah ketika masakan tersebut tidak diberi bumbu “cinta”. Berkali-kali pula juri memberikan apresiasi pada mereka yang masakannya dibumbui dengan cinta. Kadang mereka menyebutnya passion/hasrat dalam memasak.

Awalnya saya tidak mengerti bagaimana memasukkan cinta dalam masakan. Pelan-pelan akhirnya saya paham bahwa ternyata memang benar memasak tidak sekedar menghidupkan api kemudian menggoreng atau merebus sesuatu. Tidak sekedar itu. Si pemasak haruslah melakukannya dengan cinta, dengan passion, dengan gembira, sehingga emosi positif tersebut akan masuk ke dalam masakan dan menjadikan masakan tersebut menyenangkan untuk dimakan.

Bagaimana bisa perasaan gembira dapat menjadikan masakan tersebut enak? Hal ini dapat dijelaskan dengan logika. Bila kita memasak dengan cinta dan rasa gembira, maka akan berpengaruh pada cara kita memasak: cara kita mengaduk, menggiling, membuat adonan, mengocok, menakar bahan dan bumbu, dan semua aktivitas memasak lainnya. Masakan yang dibuat oleh orang yang sedang marah akan berbeda hasilnya dengan masakan yang dibuat oleh orang yang sedang gembira.

Sebenarnya penjelasan diatas sering dialami oleh siapa saja yang memasak. Biasanya, bila saya memasak dalam kondisi emosi yang sedang negatif, maka hasilnya tidak sebaik ketika memasak dengan perasaan gembira. Dengan pelajaran tersebut, sekarang saya memasak dengan perasaan penuh cinta sambil membayangkan masakan seperti apa yang disukai suami. Karena masakan yang saya masak akan dimakan oleh yang tercinta, maka masakan pun harus saya masak dengan penuh cinta.

Dan bukankah ketika kita memasak untuk keluarga dengan tulus dan ikhlas insyaallah bernilai ibadah. So, selain suami tambah cinta, kita juga bisa mendapatkan cinta Allah J

2 responses to “Memasak itu….. CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s