Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Profesional dan Penuh Makna

Pilihan menjadi ibu rumah tangga untuk zaman sekarang adalah pilihan yang berat. Dibutuhkan kesiapan diri yang tinggi untuk menjalaninya, apalagi ketika seorang perempuan sudah bekerja sebelum ia menikah. Sebagian perempuan berpendapat bahwa bekerja adalah kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki, karena kebutuhan ekonomi atau karena ingin mengembangkan dakwah. Pastinya masih banyak alasan kenapa seorang perempuan bekerja.

Bila mengingat ke masa silam, perempuan sangatlah dibatasi untuk bekerja. Diskriminasi gender adalah salah satunya. Pada saat itu, pada umumnya perempuan yang menikah menjadi ibu rumah tangga. Maka pilihan untuk menjadi wanita karir dengan segudang alasan adalah pilihan yang sulit.

Masa sekarang seolah bertolak belakang dengan masa silam. Tuntutan kesetaraan gender dan emansipasi wanita bergema hingga ke pelosok daerah. Perempuan berlomba-lomba memperebutkan posisi demi posisi pekerjaan dengan laki-laki dengan segudang alasan. Baik pekerjaan yang sesuai dengan fitrah perempuan atau tidak. Maka pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga dengan segudang alasan adalah sebuah pilihan yang sulit.

Satu hal yang sama diantara dua masa ini adalah sama-sama mempunyai segudang alasan: alasan untuk bekerja dan alasan untuk menjadi ibu rumah tangga. Dan pada saat ini sepertinya pilihan menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan yang sulit, mengapa?

Banyak perempuan yang menamatkan jenjang pendidikannya hingga perguruan tinggi. Selesai kuliah, orang tua dan lingkungan mengharapkannya segera mendapatkan pekerjaan kemudian menikah. Dan ketika ia menikah lalu memutuskan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, biasanya keputusan ini banyak mendapat pertentangan. Alasan utamanya adalah karena sudah menghabiskan waktu dan uang yang banyak untuk kuliah, jadi sayang bila ilmunya tidak dimanfaatkan. Masyarakat masih banyak yang menyayangkan keputusan seperti itu karena menurut mereka menjadi ibu rumah tangga hanyalah “ongkang-ongkang” kaki. Hanya memasak, mencuci, menyeterika, membersihkan rumah, dan mengurus anak. Saya sering mendengar pernyataan seperti ini baik ketika sebelum menikah atau pun setelah menikah, terlebih ketika saya dengan izin suami memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

Bagi saya, ibu rumah tangga bukanlah seperti yang kebanyakan orang katakan: hanya memasak, mencuci, menyeterika, membersihkan rumah, dan mengurus anak. Bukanlah hanya sekedar rutinitas yang semakin lama akan menimbulkan rasa bosan dan jenuh, asalkan dengan niat yang benar. Menjadi ibu rumah tangga bukan pula menjadi sarana untuk memanjakan kemalasan diri. Karena sejatinya, menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah sarana untuk berjuang menggapai ridho Allah. Bukankah ketika seorang istri selalu taat pada suami kemudian mendirikan shalat dan puasa maka ia berhak memasuki pintu surga dari manapun?

Saya mengenal seorang ibu rumah tangga yang pernah bertutur mengenai pengalaman pribadinya. Sang ayah menyayangkan keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga. Ia menamatkan perguruan tinggi dengan baik dan diharapkan bekerja oleh sang ayah. Berselang beberapa tahun, anak-anaknya beranjak besar dengan asuhan tangannya sendiri. Di usia sangat muda 7 tahun, anak pertamanya membuat sebuah buku cerita anak-anak dan ditahun-tahun berikutnya juga demikian. Sang ibu tersebut berhasil menemukan potensi anaknya sejak usia dini. Anaknya mendapatkan rekor muri berkaitan dengan buku yang ditulisnya.

Hal ini membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan sepele. Dibutuhkan ilmu yang luas dan kemandirian dalam belajar. Ibu rumah tangga juga harus mempunyai wawasan yang luas dan keterampilan yang banyak. Dengan demikian, insyaallah ibu rumah tangga tersebut siap mendampingi tumbuh kembang anaknya dengan optimal. Bukankah kebahagiaan seorang ibu terletak ketika anaknya bahagia dan berhasil??? Maka keberhasilan seorang anak dibentuk sejak awal melalui tangan seorang ibu.

Ibu rumah tangga juga dapat menjadi partner bagi suami dan mendukung pekerjaan suami. Membantu apa yang bisa dibantu, atau setidaknya selalu siap memberikan dukungan setiap saat. Ilmu yang dimiliki dapat di-share atau dibagi kepada suami. Setiap ilmu ada saatnya termanfaatkan. Saya yakin, suatu saat ilmu yang kita bagi kepada suami dapat membantunya dalam menghadapi pekerjaan atau permasalahan.

Dengan menjadi ibu rumah tangga yang benar, atau menurut seorang penulis menjadi ibu rumah tangga yang profesional, maka akan didapatkan kepuasan batin dan kebahagiaan. Mengapa? Karena berhasil menemukan makna dalam profesi ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga dapat dikatakan sebuah profesi. Lihat saja kolom pekerjaan di KTP beberapa perempuan yang sudah menikah, disana tertulis ibu rumah tangga  Ibu rumah tangga adalah profesi yang lebih besar dari profesi apapun yang ada. Ibu rumah tangga adalah seorang pengurus rumah, sekaligus merangkap sebagai chef, loundry, cleaning service. Tidak hanya itu. Ibu rumah tangga juga seorang baby sitter, seorang guru (karena sejatinya guru anak-anak adalah ibu mereka), seorang perawat yang menjaga dan merawat kesehatan seluruh anggota keluarga, seorang konsultan ketika suami dan anak butuh second opinion atau sudut pandang yang lain dalam menghadapi masalah. Itu saja? Tidak, masih banyak. Ibu rumah tangga juga bisa merangkap menjadi teknisi listrik (bila mempunyai ilmunya minimal ilmu di SMU), merangkap seorang ahli gizi yang memperhatikan dan memperhitungkan asupan gizi seluruh anggota keluarga. Ia juga seorang akuntan yang mengelola keuangan dan membuat alokasi yang tepat dan membuat catatan rapi mengenai pengeluaran keluarga.

Ibu rumah tangga juga merupakan salah satu faktor keberhasilan anggota keluarga. Lihatlah sejarah dimana Rasulullah SAW berhasil melalui masa-masa berat salah satunya dengan dukungan penuh dari istri tercinta beliau, Khadijah ra. Khadijah yang pada mulanya adalah seorang saudagar kaya raya, menjadi ibu rumah tangga sejak menikah dan mendukung penuh perjuangan rasul.

Lihat pula seorang anak yang menjadi ulama terkenal berkat dukungan penuh dari sang ibu, dimana ilmunya memberikan manfaat yang banyak bagi umat islam sampai saat ini.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Bila dirimu wahai para istri memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, perbaikilah selalu niatmu, luruskan selalu niat. Karena niat seringkali bengkok ketika dihadang oleh hawa dan nafsu. Selalulah belajar dan jadilah ibu rumah tangga yang profesional. Insyaallah dirimu (dan keluargamu) akan mendapatkan banyak kebahagiaan 

2 responses to “Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Profesional dan Penuh Makna

  1. Sepakat, Ibu rumah tangga adalah sebuah profesi keren, butuh banyak keahlian untuk menjadi ibu rumah tangga yang profesional, uda yakin Ani insyaallah bisa menjadi ibu rumah tangga yang profesional…🙂 keep writing Ani🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s