Cinta tak selalu berwujud bunga…

Mungkin bagi sebagian orang cinta itu hanyalah sebuah kisah romansa antara laki-laki atau perempuan. Bukankah hidup itu begitu indah. Namun bila kita hanya mengartikan cinta sedangkal itu, alangkah meruginya diri kita karena sejatinya makna dan wujud cinta itu sangat luas.

Dengan pasangan kita, suami atau istri, sejatinya ada cinta. Pun kepada orang tua, anak, saudara, dan saudara seagama. Sejatinya dalam semua interaksi dengan orang-orang yang mempunyai hubungan darah ataupun seagama ada cinta di dalamnya. Tanpa cinta, interaksi itu akan hambar sekedar basa-basi. Selain perlu cinta, juga harus diluruskan bahwa cinta itu hanyalah cinta karena Allah. Cinta yang dilandaskan karena Allah mempunyai arah dan tujuan yang jelas sehingga apapun masalah yang kita hadapi nantinya dalam interaksi dengan orang lain maka semoga dapat bertabur kebaikan dan penuh makna

Cinta, tak hanya perlu ada. Tapi juga perlu terucap dan perlu bukti nyata. Banyak orang yang berpendapat bahwa cinta tak perlu kata-kata. Saya katakan itu SALAH. Mungki anda tidak sependapat dengan saya. Tapi jujurlah, ketika diri kita masih kanak-kanak bukankah dalam lubuk hati kita membutuhkan kata-kata, “Mama sayang kamu Nak, Mama bangga padamu Nak”, atau ketika kita menjadi suami/istri, manakah yang lebih kita sukai setiap harinya pasangan kita menaburkan kata-kata cinta ataukah sama sekali tidak. Atau pernah dahulu di awal pernikahan saja…

Walau sekedar “I love you”, tetapi diucapkan dengan penuh ketulusan dari hati kita, maka itu memunculkan energi positif yang luar biasa. Mungkin saya mengatakan “sekedar” tapi nyatanya bagi pasangan yang tidak terbiasa mengucapkan “I love you” maka akan sangat berat untuk memulai mengucapkannya.

Suami saya pernah menasihati dan mengingatkan saya bahwa kemampuan kita untuk memeluk dan mencium suami/istri, serta mengucapkan kata-kata cinta dan sayang itu adalah sebuah nikmat yang tiada tara. Mengapa? Karena ternyata tidak semua pasangan mampu melakukannya dan tidak semua rumah tangga dapat merasakannya.

Bagaimana dengan bukti nyata dari cinta? Hoho… benarlah pernyataan bahwa “Cinta tak harus selalu berwujud bunga”… Saya ingin memberi sedikit bocoran kepada anda. Tentunya dengan seizin suami. Suami saya termasuk jarang memberikan bunga. Sekalinya memberikan bunga, saya masih ingat itu adalah bunga pertama suami untuk saya, ada seikat kecil bunga melati dengan daunnya yang masih segar yang diambil dari halaman rumah. Hohoho… bunga melati murah dari halaman rumah.

Saya juga ingat bunga kedua adalah setangkai bunga mawar pink imut. Mengapa pink sedangkan saya suka warna merah? Karena bunga mawar yang ada di halaman rumah berwarna pink dan ukurannya kecil. Hehehe… Tapi saya tetap senang menerimanya. Saya malah tertawa saat menerimanya karena menurut saya betapa lucunya suami saya berusaha sekuat tenaga menyenangkan hati saya. Bila saya bercandai mengenai bunga pemberiannya yang diambil dari halaman rumah secara diam-diam agar tidak diketahui orang lain (karena malu…) suami berkilah, “Ga ada yang jualan bunga sih…” Hehe… Sebelum saya berhenti kerja dan ikut suami ke Pangkalan Kerinci, saya tetap memajang bunga-bunga pemberian suami tergantung di cermin kamar hingga menjadi menjadi bunga kering.

Walau saya jarang mendapat bunga, tak mengapa. Karena suami memberikan saya limpahan wujud cintanya dalam aneka rupa. Selalu ada cinta saat akan berangkat shalat dan pulang dari shalat dalam tangannya yang kucium dan dalam pelukannya sebelum keluar rumah. Selalu ada cinta saat suami membantuku berdiri dari duduk manakala kakiku terasa sakit atau berat. Selalu ada cinta saat suami membantuku mencuci pakaian. Selalu ada cinta saat suami membantuku merapikan piring kotor selepas makan. Selalu ada cinta saat suami mengucapkan terima kasih atas apapun yang aku lakukan. Selalu ada cinta saat suami memuji enaknya masakan yang kubuat setiap saat ketika makan. Selalu ada cinta saat suami dengan sabar melayani kemanjaanku. Selalu ada cinta saat suami mengambilkan dan meminumkan obat atau vitamin. Selalu ada cinta saat setiap pukul sepuluh pagi suami menelepon atau sms dari kantor menyapa dan menanyai kabarku yang sendirian di rumah. Selalu ada cinta saat suami mengingatkan kealpaanku. Selalu ada cinta saat suami menguras bak mandi dan membersihkan kamar mandi. Selalu ada cinta saat suami menyelimutiku sebelum tidur. Selalu ada cinta saat suami membelai rambutku dan mendengarkan segala keluh kesahku.  Selalu ada cinta saat suami meminta maaf atas semua kesalahan. Ah… selalu ada cinta dalam apapun yang ia lakukan.

Suami juga selalu mengucapkan kata cinta dan sayang setiap harinya. Saya tak tahu pasti berapa kali mendapatkan kata-kata sayang dan cinta baik ucapan langsung atau melalui sms. Tapi yang pasti: banyak.

Saya yakin dan percaya, setiap rumah tangga mempunya kisah cinta yang berbeda. Bila hati benar-benar mau menabur cinta dalam rumah tangga, maka rumah tangga tersebut insyaallah akan berbalut kehangatan dan ketenangan yang tiada tara. Itulah salah satu yang kita cari saat berumah tangga: Ketenangan Jiwa. Wallahua’lam…

2 responses to “Cinta tak selalu berwujud bunga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s