Kami sering dikatakan pacaran daripada pasutri..

Suatu hari, kami mengisi pulsa di tempat biasa. Kami ditanya oleh orang yang menjual pulsa apakah kami ini pasutri? Saya tertegun sedangkan suami tertawa. Saya heran mengapa si penjual pulsa bertanya sedangkan kami sering membeli pulsa di tempatnya. Setiap keluar rumah termasuk  membeli pulsa biasanya aku selalu memakai cincin nikah. Suami tertawa saat ditanya demikian karena jarang ditanya dengan menggunakan istilah pasutri. Rasanya begitu formal. Biasanya kata-kata yang digunakan orang adalah istri atau dalam bahasa minang “urang rumah” karena si penjual pulsa juga orang minang.

Belum kami menjawab pertanyaan itu, penjual pulsa kembali berkata. “soalnya lebih tampak kayak berpacaran dari pada pasutri”.. Aku langsung berkomentar sekaligus sedikit protes, “memangnya kalau sudah menikah tidak boleh pacaran?” maksudku adalah bukankah pacaran sebelum menikah itu tidak dibolehkan, karena itu setelah menikah maka berpacaranlah dengan pasangan.

Bagiku paradigma yang berkembang di masyarakat tidaklah sesuai dengan tuntunan Islam. Pacaran yang terang-terangan tidak boleh malah dianggap wajar dan diterima. Sedangkan pasangan suami istri yang jelas-jelas sudah sah malah dianggap aneh ketika tampak hangat di luar rumah. Orang yang berpacaran berpegangan tangan berjalan di muka umum dimaklumi sedangkan suami yang memegang tangan istrinya dianggap aneh.

Setiba di rumah, saya dan suami berdiskusi apa sih perbedaan orang berpacaran dengan suami istri. Kami pun menyimpulkan biasanya orang yang berpacaran itu berjalan bersisian sedangkan suami istri yang sudah berjalan beberapa tahun apalagi sudah memiliki anak seringkali sang istri menggendong anak dan suaminya berjalan sendiri entah dimana, atau sebaliknya. Jarang yang berjalan bersisian, kadang ada depan belakang. Mengapa kehangatan itu harus dikurangi ketika usia pernikahan bertambah… mengapa kebersamaan suami istri itu dikurangi ketika satu per satu anak telah hadir di antara mereka…

Saya juga terkejut ketika melihat sebuah acara entertainment di salah satu televisi swasta. Ada seorang debt collector yang ikut acara sebuah hipnotis. Ketika di hipnotis ia ditanya tentang rumah tangganya. Sang istri mengatakan bahwa suaminya sejak menikah mulai berubah dan tidak seperhatian dulu ketika pacaran. Si istri menjadi sedih. Maka si suami ini pun ditanya mengapa ia berubah. Ia menjawab bahwa sekarang kan sudah menikah jadi ga perlu seperti dulu lagi. Sekarang fokusnya mencari uang. Ternyata baginya menikah dan pacaran itu berbeda. Pacaran berarti beromatis ria sedangkan menikah tidak lagi. Oh bapak, itu salah besar…

Bayangkan saja, pacaran yang itu dosa ditambah dengan perlakuan romantis. Sedangkan menikah yang itu halal dan tempat menuai pahala malah disia-siakan dengan menghilangkan romantisme dalam rumah tangga. Bukankah romantisme itu akan semakin menghangatkan rumah tangga itu sendiri. Dan kehangatan rumah tangga dapat membuat jiwa kita tenang dan damai bersama pasangan kita.  Sungguh sebuah paradigma yang salah menurut saya.

Menurut pendapat saya perhatian, kehangatan dan sikap romantis akan selalu dibutuhkan dan diinginkan dalam setiap rumah tangga. Keengganan memberikannya akan membuat rumah tangga semakin hari semakin hambar. Bisa jadi rumah tangga yang kita jalani terasa sebagai rutinitas belaka yang menghilang di dalamnya semangat berkorban, berbagi, dan meraih pahala dari Allah SWT. Na’udzubillahimindzalik.

Sejatinya, perhatian terhadap pasangan (suami/istri) kita tidak memandang usia dan tak lekang dimakan waktu… wallahua’lambisshowab…

6 responses to “Kami sering dikatakan pacaran daripada pasutri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s