Anduang telah tiada… I miss you anduang…

Minggu 11 Desember 2011 bertepatan 15 Muharram 1433 H. Pukul 3 dini hari, sebelum ayam berkokok, bahkan mentari pun belum menampakkan garis putih pertanda fajar menjelang hari, kakekku tercinta telah menghadap Sang Pencipta, Sang Penguasa Langit dan Bumi beserta isinya. Suami membangunkanku dan menyerahkan hp sambil menatap penuh tanya. Kaget menatap layar hp bertuliskan ‘papa’, ada apakah gerangan pagi sekali menelepon. Ternyata sesuai dugaan suamiku, kabar itupun kami terima. Anduang telah tiada.

DSCN5028

Anduang (istilah kakek di daerahku), yang dikenal dengan sebutan Mak Adang, berusia 83 tahun di bulan oktober tahun ini. Sejak idul adha di bulan november kemarin, anduang tak lagi dapat beraktivitas seperti biasa. Biasanya anduang masih dapat berjalan keluar rumah, ke lapangan di depan rumah dekat jalan raya sambil menikmati panas mentari, atau ke kamar mandi untuk berwudhu dan buang air. Tapi lebih dari satu bulan terakhir anduang hanya di tempat tidur dengan segala aktivitasnya. Nenek yang alhamdulillah walau berusia 73 tahun diberikan Allah kekuatan untuk mengurus anduang terutama untuk hal-hal yang sangat pribadi.

Begitu mendengar kabar anduang, aku terdiam. Cukup lama terdiam. Ada rasa kosong di dalam diriku. Baru beberapa menit kemudian air mataku keluar. Suami membiarkanku menangis sambil memeluk untuk menguatkan sambil berkata, “Sabar ya Sayang.”

Aku merindukan anduang. Lebih dari hari-hari sebelumnya. Bagiku anduang berperan besar dalam hidup. Sebelum aku mengenal sekolah, aku telah sering pulang kampung bergantian dengan kakakku. Baru setengah tahun di taman kanak-kanak, aku telah pulang kampung dan sekolah disana dari SD hingga SMU. Aku dibesarkan oleh tangan anduang beserta nenek dan adik-adik mama.

Anduang adalah orang yang mengajari aku mengaji dan doa-doa selepas shalat. Anduang jua yang senantiasa menanyakan apakah aku sudah shalat atau makan. Ketika malam, anduang selalu memeriksa kamarku apakah sudah dikunci apa belum. Anduang selalu menanyakan keberadaanku kepada orang-orang yang ada di rumah bila aku belum pulang. Anduang selalu menandatangani rapor sekolahku. Dan anduang selalu menanyakan kabarku bila aku pulang.

Anduang juga sering memilihku menjadi tempat bertanya ketika ada permasalahan agama yang ingin diketahuinya. Walau sudah sulit membaca Al Quran karena lidah yang kelu saat tensi tinggi, anduang masih sering memanggilku bertanya apa arti dari kata atau kalimat dari ayat-ayat Al Quran yang sedang dibacanya. Anduang juga sering mengulang-ngulang membaca buku La Tahzan milikku yang aku sendiri tidak pernah selesai membacanya. Karena aku melihat anduang senang dengan buku itu, saat aku ikut suami ke Pangkalan Kerinci Riau buku tersebut aku tinggalkan dengan maksud aku berikan kepada Anduang. Aku teringat anduang, lebih dari hari-hari sebelumnya. Ah, benarlah kata orang merasa kehilangan baru terjadi ketika kita benar-benar telah kehilangan.

Setelah aku tenang, aku mengajak suami mulai packing untuk pulang kampung. Sambil aku merapikan pakaian yang akan dibawa pulang, suami membuatkan nasi goreng untuk kami makan sebelum pulang. Sebelum subuh kami makan dan mandi, setelah subuh kami pun langsung bersiap-siap untuk berangkat pulang. Jam 5:45 kami pun berangkat menuju kampung halaman, berpacu dengan waktu mengejar kesempatan untuk bersua terakhir kalinya dengan anduang tersayang.

Tak ada mobil yang langsung ke kampung. Untuk bisa sampai ke desa Bintungan Panyalaian, kami mencari mobil jurusan Padang Panjang, Padang, atau Pariaman karena lewat di depan rumah. Jika tidak ada, kami mencari mobil jurusan Payakumbuh atau Bukittinggi dan kemudian mencari mobil jurusan Padang Panjang. Kami harus naik angkutan umum ke pekanbaru, kemudian naik bus kota ke daerah panam, dari panam mencari mobil ke kampung. Kami mendapat mobil jurusan pariaman.

Bila berangkat malam hari, ada travel yang langsung menghantar kami ke depan rumah. Namun di pagi hari tak ada satu pun travel yang dapat kami naiki. Jalan satu-satunya adalah naik mobil tambang. Bila naik travel kami biasanya menghabiskan waktu 6-7 jam di perjalanan. Sedangkan kemarin hampir 9,5 jam kami di perjalanan. Pukul 15:30 kami baru tiba di rumah.

Aku tidak sempat melihat anduang, memandikan, mengafani, menyolatkan, dan mengantarkan ke kubur. Inginku untuk langsung ke pusara anduang pun tertunda karena hari masih hujan. Anduang dikuburkan di pemakaman Kampuang Panyalai di tengah sawah berpohon bambu rindang. Jalan menuju pusara sangat licin bila hari hujan.

Baru esok harinya aku dan suami ditemani mama ziarah ke makam anduang.Aku benar-benar tak dapat menahan tangis. Aku menangis dengan pelan, hampir tak ada suara. Hanya air mata yang menetes dan sesekali segukan kecil. Aku tak mau meratap atau menangis dengan keras. Karena begitu rasul mengajarkan.

Hari Selasa selepas Shalat Subuh, jamaah Shalat Subuh datang takziah ke rumah. Banyak sekali yang datang. Aku tak menyangka sebanyak itu yang datang. Rumah yang berukuran cukup besar menjadi penuh. Setidaknya ada 29 orang jamaah perempuan dan 9 jamaah laki-laki. Belum lagi di malam hari Minggu sebelumnya, rumah juga dipenuhi oleh pihak mamak dan bapak yang takziah secara adat menggunakan pasambahan.

Aku mendengarkan cerita keluarga bahwa sejak berita anduang telah tiada disiarkan di mesjid, orang-orang datang dan rumah menjadi penuh. Dan sejak itu, orang-orang datang silih berganti untuk takziah. Baik yang dari dekat maupun jauh. Sampai aku akan balik ke Pangkalan kerinci hari Selasa malam pun masih berdatangan orang-orang yang datang.

Aku terharu menyaksikan begitu banyak orang yang datang. Begitu banyak orang yang mencintai anduang. Walau telah lama anduang hanya di rumah dan lebih dari satu bulan tak lagi keluar rumah, namun sosok anduang sangat akrab bagi banyak orang. Anduang semasa masih kuat selalu menjadi pengurus mesjid dan sering menjadi imam di mesjid. Anduang juga menjabat “Suntiang Pangulu“ sebuah jabatan dalam masalah adat yang mengurus masalah pernikahan dalam sukunya. Anduang juga bertahun-tahun berinteraksi dengan orang-orang di pasar. Aku juga ingin menjadi seperti anduang yang dicintai banyak orang.

Pengurusan jenazah anduang pun alhamdulillah lancar. Proses memandikan dilakukan oleh nenek, semua anak anduang, cucu dan dibantu oleh seorang yang paham proses memandikan jenazah. Kain kafan anduang berlebih sehingga sebagian tidak digunakan karena banyak orang yang datang sambil membawa kain kafan. Yang menyolatkan anduang pun banyak. Bahkan jamaah shalat zuhur tidak langsung pulang tetapi menunggu jenazah anduang tiba di masjid untuk dishalatkan. Keranda anduang saat dibawa kekuburan diangkat oleh keluarga, tak terasa beban berat bagi mereka. Bahkan adik sepupuku yang ikut membawa keranda anduang mengatakan bahwa lebih berat membawa keranda ketika kosong daripada saat membawa anduang. Subhanallah, banyak kemudahan dalam mengurus anduang untuk terakhir kalinya.

Saat jasad anduang akan dimakamkan dan telah berada di dalam liang kubur, etek santi (adik mama paling kecil) melihat kain kafan anduang begitu putih bersih. Etek berujar dalam hati, “Bagusnya kain kafan ayah ini…” Sedangkan adik sepupuku Anda berujar kepada Mamanya, “Ma, lihat kain kafan anduang bersinar.” Mama pun bersorak dalam hati, membenarkan perkataan Anda.

Dari semua orang-orang yang datang takziah, tak ada satupun celaan yang keluar dari mulut maupun roman muka mereka. Aku benar-benar yakin bahwa sosok anduang begitu menyenangkan di mata mereka.

Aku menjadi terinspirasi dari anduang, bahwa untuk dicintai banyak orang maka jadilah sosok yang baik yang dapat menyenangkan hati orang lain. Selalu berlaku baik dan menolong tanpa pamrih. Aku juga ingin menjadi sosok seperti anduang yang dicintai banyak orang…

Anduang, maafkan ani yang banyak berbuat salah dan khilaf kepada anduang. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Anduang, menerima semua amal ibadah Anduang dan menjadikannya amalan dengan pahala yang mengalir hingga yaumil akhir, semoga Allah membebaskan Anduang dari siksa kubur, semoga Allah melapangkan dan menerangkan kubur Anduang, serta diberi teman yang baik di alam kubur yaitu teman dari amal-amal soleh yang pernah Anduang lakukan. Semoga Allah kelak mengumpulkan kita di surga ya Anduang. Amin ya Allah, amin ya rabbal ‘alamin…

Bagi segenap masyarakat yang pernah mengenal Anduang, mohon maafkan segala salah dan khilaf Anduang. Bila ada utang-utang anduang mohon dikabarkan ke ahli warisnya atau mohon ridhonya…

7 responses to “Anduang telah tiada… I miss you anduang…

  1. Innalillahi wa inna ilaihiroji’un…
    semua makhluk yang bernyawa pasti akan kembali kepada Allah, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini ya Ani, semoga kita sekeluarga bisa mengambil hikmahnya, semoga Allah mengabulkan doa Ani, semoga setiap amal kebaikan yang telah dilakukan anduang di masa hidupnya menjadi amal jariyah yang akan membawa andung ke syurga Allah, semoga kita yang ditinggalkan menjadikan moment ini sebagai pemacu untuk melakukan amalan2 kebaikan yang berbuah pahala, yang akan menyelamatkan kita di yaumil akhir nanti…amin… selamat jalan anduang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s